Minggu, 09 Maret 2014

JANJI TERAKHIR

Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia., meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Elga, meskipun dia sering menghianati cintaku.

“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!”

Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat.

“Maafin aku Nilam, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Nilam. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Elga, aku sangat mencintainya.

Malam ini Elga menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Elga dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Elga di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.

“Nilam, kamu cantik banget malam ini.”

“Makasih. Kita jadi dinner kan?”

“Ya tentu, tapi Nilam, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”

“Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.”

Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Elga. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Elga menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Elga menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Elga perbuat padaku.

Kami berhenti disebuah Tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Elga benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Elga, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.

“Kenapa El? Mienya gak enak?”

“Enggak ko, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Nilam?”

“Enggak. Aku sering ko makan ditempat kaya gini. Mie ayamnya enak loch. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”

Aku yakin, Elga gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Elga mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal.
Dua tahun bersama Elga bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Elga sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Elga berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yang mau dipermainkan oleh Elga. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.

Selesai makan Elga Nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.

“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”

“Yakin di saku gak ada?”

“Gak ada. Gimana dong?”

“ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir kamu. Ok!”

“ok. Makasih ya sayang, maafin aku.”

Saat di kampus, aku bertemu dengan Alin dan Flora. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Alin menarik tanganku.

“Nilam, kamu sakit? Ko pucet sich?”

Alin bicara padaku, ini seperti mimpi, Alin masih peduli padaku.

“Engga, Cuma capek aja ko Lin. Kalian apa kabar?”

“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sich dimainin sama cowok playboy kaya Elga! Jangan-jangan Elga gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”

“Stop Flo! Kasian Nilam! Kamu kenapa sich Flo bahas itu mulu? Nilam kan gak salah.”
“Udah dech Alin, kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Nilam! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”

Flora bener, jangan-jangan Elga gak sayang sama aku, Elga gak cinta sama aku, itu yang buat Elga selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Elga dan takut kehilangan Elga. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Elga padaku. Jika benar Elga tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.

Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Elga bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Elga menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanitaitu, sangat jelas, dia sahabatku, Flora….

Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Elga. Akan ku pastikan, apa Elga akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Elga.

“Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang El?”

“Maaf Nilam, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?”

“Emang kakak kamu mau kemana El?”

“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”

“El! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Flora jadi kakak kamu? Hah?!!”

“Nilam, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”

“Aku liat sendiri kamu pergi sama Flora El! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu El! Kenapa kamu harus selingkuh sama Flora El? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita Putus El!”

“Nilam, ini gak…….”

Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Elga tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.

Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Elga, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Elga datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Elga sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Elga, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Elga yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.

Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Elga. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Elga ada dihadapanku.

“Maafin aku Nilam! Aku sama Flora gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Nilam!

“Kita udah putus El! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar Tujuh juga bukan urusan aku!”

“Tapi Nilam…..”

Aku berlari meninggalkan Elga, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Elga terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………
 
“Elgaaaa…..”

Elga tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Elga.

“Elga, maafin aku!”

“Nilam. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”

“Elgaaaaaa……”

Elga meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Elga semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Elga menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani Elga didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Satu minggu setelah Elga meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Elga yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman Elga, tatapan Elga, takan pernah bisa kulupakan.

“Nilam sayang, ini ada titipan dari Ibunya Elga. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Elga tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”

“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”

Kubuka bingkisan dari Ibu Elga, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.


Dear Nilam,
Nilam sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta.
Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Nilam.
Love You
Elga

Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Elga, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.

“Bu, aku udah nikah sama Elga!”

“Nilam, kenapa sayang?”

“Ini!” Kutunjukan cincin pemberian Elga dijari manisku.

“Nilam, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”

“Sekarang aku mau cerai sama Elga Bu!” kulepas cincin pemberian Elga dan memberikannya pada Ibu.

“Aku titip cincin pernikahanku dengan Elga Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!”
Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.

Suatu Saat di Kota Tua

Kenanglah Aku-nya Naff sudah sampai ke reffnya. Tapi Aku masih saja menulis surat yang gagal berkali-kali. “Duh, susahnya bikin surat untuk cewek yang satu ini!” aku mengeluh. Sebenarnya Aku paling gak suka ada cowok yang menyukai cewek pake surat-suratan segala. Gak jamannya lagi. Itu juga nasehatku pada teman-temanku. Tapi kali ini aku seperti terkena bumerangku sendiri. Ah, sebodo amat. Cuek. Aku coba lagi, sret…sret….sret! dan salah lagi. Pikiranku jadi kacau. Ku sobek-sobek kertas surat berparfum itu. Bret! Bret! Bret!. Beres matikan tape lalu pergi keluar kamar!
Pikiranku masih terus liar. Rasanya Rere dah merubah semua kebiasaanku. Gimana enggak, mulai dari senyum, sorot mata dan banyak lagi. Pokoknya semua mua yang ada dalam diri Rere bagai sentuh magic yang gak ada di bengkel manapun. Luar biasa!. Tapi rasanya koq Aku dihinggapi rasa takut yang amat sangat. Takut kehilangan Rere dan takut ….Rere gak menyukaiku. Ah, parah banget ! “Kayaknya sih Tiara suka ma gue” gitu batinku menghibur.
“To, tolongin gue dong?” pintaku sesampai di rumah Yanto.
“Minta tolong pa’an? Tumben-tumbenan elo minta tolong ma gue” kata Yanto.
“Gue lagi jatuh cinta”
“Jiaaa…ma siapa? Aneh banget elo kena virus kayak gini” Yanto terus meledekku. Aku mulai jengkel.
“Nih serius, urusan dunia akherat”
“Huu…segitu jauhnya sampai ke akherat”
“Ya iyalah…” Aku membela diri. Yanto akhirnya manggut-manggut kayak dukun abis ngedengerin keluhan pasiennya. Dan….
“Siapa sih cewek yang elo maksud?” tanya Yanto. Aku mulai menggeser dudukku mendekati Yanto, kemudian kudekati telinga Yanto.
“Cewek itu namanya Rere…?” bisikku ke telinganya. Yanto terkejut.
“Kenapa, To?” tanyaku menyelidik.
“Ah, enggak, gak papa
Jawaban Yanto membuat aku bertanya-tanya. Aku mendesak Yanto tapi ia cuma bilang gak papa.
“Ok, deh” Yanto mengalihkan kecurigaanku. Nanti gue datengin dulu Rere dan bicara empat mata ma dia. Gimana?”
“Terserah elo gimana caranya”
“Ok, teman. Elo tunggu khabar dari gue ya?”
Kami  berpisah. Tinggal Yanto sendirian. Mulai deh pikirannya kacau. Entah kenapa sekarang malah Yanto yang kacau. Bingung. Pasti kenapa kenapa nih….?
Benar, janjinya ditepati. Yanto bilang bahwa Rere mau ketemuan di Kota Tua. Duh, aku senang banget. Aku mulai salah tingkah. Sambil terbungkuk-bungkuk….”Makasih To, makasih To, elo mang sahabat gue yang paling baik” aku puji Yanto abis-abisan. Yanto cuma tersenyum. Lalu aku mohon pamit pulang. Langkahku semangat kemerdekaan. Sesampainya di rumah aku langsung bunyikan MP3-ku, mengalunlah Kenanglah Aku-nya Naff.
Waktu yang dijanjikan sudah tiba. Perasaanku gak karuan. Rasanya ramai. Aku harus sudah siap ketemu Rere di Kota Tua. Ah, benar-benar gak bisa diatur nih detak jantungku. Dang dang tut! Dang dang tut! Bunyi jantungku (aneh!).
Aku melihat Rere dari kejauhan. Duh, itu dia Rere sedang duduk menunggu di kursi Taman Fatahila.
“Hmm…dari jauh aja sudah kelihatan cantik…” Aku memuji dalam hati sambil mendekati ke arah Rere.
“Hai” sapaku
“Hai juga” balas Rere
“Dah lama nunggu ya?”
“Belum juga sih”
Lalu kami saling bertatapan. Senyum Rere mengembang. begitu juga senyumku. Mirip iklan pasta gigi. Oh, My God, itu senyum Rere yang selalu kuimpikan.
“Rere…, sebenarnya aku…aku…” kataku terbata-bata. Nervous.
“Rere dah tau koq apa yang mau kamu katakan”
“Lho, dari Yanto, ya?”
Rere mengangguk.
“Terus kamunya gimana ma aku?” Aku menyelidik penasaran.
Rere terdiam. Ada seribu beban yang menindih pikiran Rere entahlah koq tiba-tiba aja Rere punya rasa bersalah terhadapku.
“Andre, sebenarnya…..” Rere nggak sampai hati coba menjelaskan padaku.
“Ada apa Re? kamu sayang ma aku atau …?”
“Yanto, teman kamu…Oh…” Rere menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kenapa dengan Yanto ? ngomong dong!” aku mendesak.
“Rere udah lama…dah lama pacaran ma Yanto”
“What?” Aku kagetnya minta ampun. Petir telah menyambar jantungku. Hampir berhenti berdetak!.
Rere nggak berani menatap wajahku. Ia sembunyikan wajahnya di telapak tangannya.
“Jadi Yanto pacar kamu?” tanyaku bodoh. Rere mengangguk lemah.
Se
Sekali   lagi  aku   cuma   bisa memandang  Rere.  Kali ini  pandanganku  begitu  dalam. Langsung  ke pusat sasaran yaitu jantungnya. Terasa tubuh  Rere bergetar   hebat. Ia   sembunyikan  wajahnya  di   balik    rambutnya. Aku genggam jemarinya. Erat sekali. Diam.  Sepi. Cuma hati yang bicara.
“Terus    kenapa   kamu    mau bertemu   denganku?”   suaraku memecah kesunyian.
 “Yanto yang menyuruhku. Dia gak mau ngecewain kamu, meski pun… meskipun…” Rere menghentikan omongannya. Ia pandang wajahku.
“Meskipun aku berat meninggalkan Yanto”
Seribu rupa kini perasaanku. Aku berusaha mengendalikan perasaanku.
“Re” panggilku. Rere menoleh. Hmm, wajah itu. Wajah yang selalu menari-nari di mata ku. Wajah yang selalu menggodaku setiap hari.
“Kembalilah ke Yantomu. Aku bahagia melihat kamu bahagia”
Rere menangis. Digenggamnya tanganku. Dikecupnya telapak tanganku.
“Semoga kamu mendapatkan yang lebih dari aku, ya” Rere berusaha menenangkan perasaanku. “Kamu harus ingat Ndre, setitik kasih membuat kita sayang. Seucap kata membuat kita percaya. Sekecil luka membuat kita kecewa. Namun hanya satu yang ingin aku kau tau bahwa rasa sayangku akan selalu ada untukmu”
Aku berusaha tersenyum. Tapi batinku protes, “Gak ada yang lebih baik dari kamu, Re”
Suasana Kota Tua begitu ramai. Tapi batinku sepi. Lebih sepi lagi saat tubuh Rere hilang dari pandanganku. “Kamulah segalanya Re. Gak ada yang bisa ngebandingin kamu. Terlalu sempurna. Sebenarnya aku mau genggam tanganmu agar kau tak jauh dariku. Aku mau terus memeluk tubuhmu agar kau tak hentinya hangatkanku. Dan aku mau terus menciummu agar kau kan tetap mengingatku. Tapi…ah, semuanya tak diijinkan oleh waktu” Aku terus membatin. Seolah gak percaya apa yang baru kualami. Benar juga cinta adalah derita yang istimewa dan membahagiakan, barangsiapa memilikinya dalam hati akan mengetahui rahasia cinta.Kenanglah aku sepanjang hidupmu, Re….
Aku seperti melihat
suara …
tak bisa kusapa
tak mampu kutanya
Padahal angin telah
membantuku
terbangkan asa
pulihkan rasa
Ah, pada kamulah
semua sabda bertahta

KEBAHAGIAAN MENDATANGKAN KESEDIHAN

Awal ku mengenal seorang cowok dimulai dari persahabatan dan kejadian ini terjadi pada tahun 2009... Dan saat pertemuan itu berkumpul bersama teman-teman...

Saatnya terbangun ku mendengar suara kicauan burung memanggil ku...
aku duduk di serambi depan rumah..
melihat taman bunga yang indah dan pohon-pohon di sekelilingku...

Kuambil secarik kertas untuk menulis pesan untuk keluargaku, ku langsung beranjak pergi mempersiapkan diri melangkah setiap langkah ku...

Walaupun hati tidak siap untuk meninggalkan semua kenangan senang, sedih dan bahkan menyesakkan hatiku yang ada selama ini, tapi aku siap untuk memulai hidupku...

Berawal dari persahabatan ku sangat lama ku jalani, Rafael seorang teman yang sangat akrab sebelumnya dengan temanku... dan tidak menyangka dari persahabatan mereka menimbulkan suatu keraguan dalam hatiku. Bahkan pikiran ku memulai untuk menanyakan beberapa pertanyaan untuk temannya, tapi aku tidak siap untuk mengatakannya mungkin aku butuh waktu untuk itu.
Ternyata dari keraguan itu.. yang menimbulkan aku semakin dekat dengan Rafael.

Tiba-tiba Rafael menelpon aku dan mengajak aku untuk pergi ke Mal terdekat daerah rumah kita.

Dengan senyum malu aku menjawab "ya".

20 menit Rafael datang untuk menjemput ku dan segera kita berangkat, dengan senangnya Rafael menyambut ku dan meraih tanganku untuk memeluk badan nya.

"Ayo, pegang badan ku yang erat karena aku mau kencang mengendarai motorku"... tanya Rafael kepadaku.

"O ya jangan takut aku pegang erat badan kamu," jawabku, walaupun dengan malu nya aku menjawab.

Seiring berjalannya... sampai tujuan kita langsung ke tempat makanan...

"Kamu sudah makan...?" tanya Rafael kepadaku.

"Ayo kita makan," jawabku.

Siap memilih menu kita masing-masing.


Sambil menunggu makanan tiba, memulai untuk obrolan... Tatapan Rafael yang penuh arti dan aku membalasnya dengan senyuman.

Tiba-tiba... makanan datang... dan siap santap makanan ini.

"Ehhmm enaknya makanan ini ya," kataku.

Tiba-tiba teman-temannya Rafael datang dan menghampiri kita untuk bergabung. Semakin seru dan suasana semakin ramai.
"Asyiknya berkumpul di tempat ini ya..???" kataku.

Waktu semakin larut malam. Segera kita meninggalkan tempat dan bergegas untuk pulang.

Terbaring nya aku di tempat tidur sambil mendengarkan musik. Dan siap untuk tidur...


Perlahan-lahan aku membuka hatiku untuk Rafael.
Mengenal keluarganya Rafael dan mereka pun menyambut ku dengan senyuman.

"Silahkan duduk", sapa mamah nya Rafael.

"Iya bu" jawabku.

Dengan sopan mamah nya menyapa aku. Dengan berjalannya waktu semakin larut malam aku berkunjung di rumah Rafael.

"O ya aku pulang dulu ya, sudah larut malam nih", kataku.

"Terima kasih ya sudah datang", jawab mereka.

Seiring waktu aku bersama Rafael, semakin hari semakin dekat kita berdua...

"Hai Res, besok kamu ada acara kemana..?" tanya Rafael kepadaku.

"Tidak kemana-mana, memang kenapa..?" jawabku.

Dari pertanyaan itu yang membuat aku semakin bingung untuk menjawabnya, dengan tangkas nya aku menjawab "boleh".
Tersenyum lebar Rafael kepadaku. Pergi ke suatu restoran tak jauh dari rumah kita, dan Rafael memilih tempat makan yang bagus dan suasana yang sangat romantis. Dengan suasana tempat yang di sekeliling nya bunga-bunga dan ada satu lilin diatas meja makan kita.

"Indah sekali tempat ini" tanyaku. Rafael menyiapkan ini semua untukku..

Dengan iringan musik yang indah dan membuat suasana kita semakin hangat. Tak luput dari pembicaraan kita ada tawa dan senda gurau.

Hening sejenak..

Rafael terima telepon dari teman dekatnya, dan mengundang temannya untuk datang di acara makan malam bersama...

Selesai makan, kita semua bermain bilyard dengan pasangan kita masing-masing. Seru dan ramai kita saling berlomba... dari bermain bilyard tidak sengaja aku melihat tatapan Rafael tertuju kepadaku. Dengan segera Rafael pasang muka penuh malu dan merah. Aku memberanikan diri untuk menghampirinya, tersenyum lah Rafael kepadaku. Diantara teman-temannya memperhatikan kita berdua... dan mereka pun ikut bersorak-sorai dengan sambutan mereka yang membuat kita tertawa lebar.

Dengan lelahnya aku bermain, aku berusaha untuk duduk dan minum sejenak.
Tiba-tiba Rafael menghampiri ku, dan mengatakan sesuatu yang penting.
Dengan bisik-bisik Rafael berbicara denganku...
"Aku suka sama kamu", tanya Rafael kepadaku.

Butuh waktu aku menjawab itu..

"Bagaimana ya..??" jawabku.
Tak secepat itu aku menjawab ya, tidak sabar Rafael menunggu jawabanku.

Seringnya kita bersama.. dan hampir semua tempat kita kunjungi...
Suasana yang berbeda, tiba-tiba ide dari Cumi untuk membuat acara bakar ayam di rumahnya. Aku bersama cewek nya Cumi menyiapkan beberapa nasi dan minuman. Dan laki-laki nya menyiapkan arang-arang nya, untuk ayamnya segera dibakar. Berharap ayamnya segera selesai..

Sambil menunggu ayamnya matang, Rafael berusaha menghibur Res dengan menyanyi sambil bermain gitar penuh semangat dan gembira...

Segera ayam disantap dan menikmati suasana malam yang sejuk dan dingin.. dan melihat bintang-bintang yang indah.

"Mantap sekali ayam ini ya," kataku. Dengan lahap nya mereka menyantap ayam yang masih hangat.

Hari semakin cepat berganti dan waktu semakin berubah setiap detik nya...

Tidak kusangka pertemanan kita semakin akrab dan berlanjut lama..
Buat kejutan untuk Rafael, selesai aku pulang dari kuliah.. aku berusaha untuk telepon Rafael.

Ternyata Rafael yang mengangkat teleponnya,
"Hai Rafael, nanti sore aku mau kamu datang ke rumahku...??" tanyaku.

"Ya boleh" jawab Rafael.

Dengan segera aku persiapan diri untuk mandi. Mamah ku menyapa ku dengan wajah yang penasaran... Selesainya aku mandi... tak lama Rafael datang dan menunggu ku di teras depan rumahku. Segera Mamah ku menyapanya dan mengobrol dengan Rafael. Dari pembicaraan mereka terdengar dari kamar ku.. Penuh curiga aku segera keluar dan bertemu dengan Rafael dan mamah ku. Tak lama kemudian mamah ku meninggalkan kita berdua, sambil menunggu waktu.. aku menyiapkan minuman dan makanan.

Tidak mengerti apa yang dibicarakan Refael tentang dirinya, dengan pasang wajah yang serius... Tapi aku membalasnya dengan wajah yang lucu agar suasana tidak tegang. Ternyata dari pembicaraan itu yang membuat aku semakin penasaran dan ragu. Tetapi aku berusaha untuk tenang.. sambil Rafael memegang tanganku penuh erat dan tatapan yang tidak sanggup untuk mengatakan kepadaku...

Sekian lama aku menunggu dari sebuah jawaban...

Tak lama aku berpikir panjang... untuk datang dan mencari tahu dari teman dekatnya.
Mudah-mudahan dari penasaran ku, aku dapat jawaban yang membuat hatiku lega.

"Hai Cumi... apa kabar..??" tanyaku. Dengan pasang wajah yang kaget Cumi menyapa ku.

"Hai.. Aku baik-baik aja Res, tumben kamu main ke tempatku," Jawab Cumi.

Dipersilakan duduk aku di ruang tamunya. Mungkin ini terlalu berani aku bicara dengan Cumi... berapa menit kemudian cewek nya Cumi datang dan menyambut ku...

Cewek nya Cumi bertanya kepadaku...
"Res kamu tumben datang ke sini.. ada apa ya..??"

Aku mau bicara sesuatu tentang Rafael, jawabku.

Dari obrolan kita bertiga semakin menegangkan.. ternyata dari obrolan Rafael dengan mamah ku yang membuatku kaget.

"Apakah ini benar..??" jawabku.
Ternyata mamah ku tidak suka dengan Rafael. Dan supaya Rafael meninggalkan aku.

Kenapa ini bisa terjadi aku mencintai seseorang tetapi.... ??

Bahkan aku berusaha untuk lebih dekat dengan Rafael.. agar dari cerita ini semua, tidak membuat aku jauh dari Rafael. Aku akan berusaha memberikan semangat untuknya...

"Bagaimana hubungan aku berikutnya dengan Rafael...??" Cumi dan cewek nya berusaha untuk menenangkan aku juga.

Memberikan waktu untuk berpikir antara Res dan Rafael...

Pertemuan aku tiba-tiba dengan Rafael.. dengan tempat yang sama sewaktu aku kenal Rafael pertama kali.

"Kamu mau minum apa...?" tanyaku.

"Es kelapa aja," jawab Rafael. Tatapan Rafael yang penuh penasaran dan tanda tanya..

"Ada apa sebenarnya Res..??" tanya Rafael.

"Hmmm..." jawabku.
Aku berusaha dengan tenang untuk menjelaskan ini semua dengan Rafael.

"Sebelumnya aku minta maaf, aku sudah sayang sama kamu tapi...??"
Rafael memegang tangan Res dan untuk segera mengatakan nya.

Hening sejenak sambil menahan nafas perlahan-lahan...

"Rafael sepertinya kita sampai disini aja hubungan kita," kataku.

Tidak menyangka dari pikiran Rafael secara tiba-tiba. Mataku berbinar-binar, sedikit demi sedikit aku menitiskan air mata.
Diambilnya tisu dan segera Rafael mengusap air matanya Res.

"Kenapa ini bisa terjadi..?" kata Rafael.

"Akupun sudah bahagia bersama kamu Rafael", jawabku.

"Mungkin ini sudah jalan terbaik buat kita...", kataku.

Dari pertama kali Rafael berbicara dengan mamahku. Akupun sudah tahu.. tapi aku butuh waktu untuk membicarakannya ini semua dengan Rafael.

Kemungkinan aku saja yang menyudahi hubungan ini.

Hai Res.. kenapa kamu mesti menangis..??” tanya Rafael kepadaku.

Ku terdiam dan tidak bisa menjawab apa-apa lagi.

Kita bisa berteman kan..?? jawabku.

"Walaupun kita sudah tidak ada hubungan lagi, tapi kita bisa bertemu lagi kan..." kataku.

Ternyata kebahagiaan yang kita miliki belum tentu juga untuk selamanya..

EVERLASTING

Saat pertama kali gadis itu menginjakan kakinya dirumahku,  aku sudah menyukainya. Tak peduli bahwa ia adik angkatku, aku sangat menyukainya. Wajah lugunya serta senyum polos yang selalu ia tunjukkan membuat perasaan ini semakin tidak karuan. Bertahun-tahun aku menahan perasaanku karena aku tau mama dan papaku tidak akan pernah mengizinkannya sampai kapanpun.
Avia, gadis kecil yang dibawa orangtuaku dari sebuah panti asuhan itu kini tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan lembut. Dari awal, aku tidak pernah bersikap baik kepadanya, aku tidak pernah menjawab ketika ia bertanya, aku tidak pernah menunggunya untuk berangkat ke sekolah bersama, dan aku tidak pernah menghiraukan keberadaannya...aku lakukan semua itu supaya aku tidak merasa bersalah karna telah menyukai adik angkatku sendiri.
Bahkan Raina, teman dekatku sejak SD menyalahkan perasaanku. Ia bilang bahwa aku rupayanya sudah gila. Ia bilang kenapa tidak orang lain dan kenapa harus adik angkatku. Aku hargai setiap perkataannya karena dia adalah teman baik ku, tapi aku bisa berkata apa? Inilah aku! Hatiku tidak akan berubah walau seluruh orang di dunia berkata cintaku ini mustahil!

“kakak! Ka Niko! Ditunggu mama sama papa untuk makan malam dibawah. Cepetan ya kak!” Seru Via yang membuyarkan lamunanku saat itu.
Aku tidak menjawabnya, aku malah pergi ke rumah Raina dan makan malam disana. Orangtua Raina tidak keberatan harus semeja makan denganku karena mereka juga kenal dekat dengan keluargaku dan aku sering sekali berkunjung. Setiap hatiku sedang gundah gulana aku selalu menceritakannya pada Rai.
“gue ga tau ko mau kasih nasehat ke elo kaya gimana lagi...” ucap Raina merebahkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan bantal.
Aku mendekatinya dan menarik bantal itu dari wajahnya. “ayolah Rai! Gue mohon! Gue bener-bener suka sama Via. Gue juga ga tau kenapa Tuhan harus menakdirkan dia jadi ade angkat gue. Gue bingung banget Rai!”
“ini nasehat terakhir ko. Ada 2 pilihan. Lo mau nyatain perasaan lo atau mundur dan merelakan semuanya.” Yang dikatakan Raina memang benar. Aku tidak punya pilihan lain. Menunggu terlalu lama membuatku jenuh dan lelah. Aku hanya punya 2 pilihan itu dan harus segera ku putuskan yang mana yang akan aku ambil.
“gue nginep dirumah lo dulu ya Rai malam ini. Gue mau mikirin keputusannya.” Ujarku lalu menarik selimut dan bersiap tidur.
Tiba-tiba Raina mendorong punggungku dengan kakinya hingga aku terjatuh dari tempat tidurnya. “lo gila ko?! Tidur dibawah! Yang bener aja masa tidur bareng sama gue!” omel gadis itu. Terkadang aku berfikir dia sangat lucu kalau sedang marah-marah seperti itu. Aku tertawa dalam hati dan menuruti perkataannya.
“iya! Kejam banget sih lo kaya Belanda!” ledekku.
“biarin aja! Daripada elo bodoh banget ga pernah nyadar!” setelah membalas ledekanku Raina langsung menutupi dirinya dengan selimut. Apa maksud dia? Ngga pernah nyadar? Apa dia ngeledek aku yang ga pernah nyadar kalau menyukai Via adalah suatu kemustahilan?
Keesokannya aku berangkat sekolah bersama dengan Rai. Kami pergi dengan kendaraan umum. Menunggu lampu merah untuk menyebrang jalan raya yang dipenuhi mobil dan motor yang berlalu lalang. Aku menggandeng tangan Rai ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah dan menyebrang melalui zebra-cross. Namun Raina menghempaskan tanganku ke udara. Ia melepaskan genggamanku dan berlari. Saat aku akan mengejarnya lampu itu berubah warna, kulihat datang sebuah truk berwarna putih dengan kecepatan tinggi tapi Rai tidak menyadarinya sampai truk itu mengklaksoninya.
Aku berteriak sekencang-kencangnya. “RAIINAAAAAA!!!”

“She’s lost in the darkness, fading away..I’m still around here screaming her name...”
*Within Temptation – Lost*
Syukurlah...syukurlah aku berhasil menariknya dan memeluknya sehingga tak terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Jika itu terjadi, aku tak tau harus berbuat apa. Dalam sekejap kaki dan tanganku membeku, aku masih terus mendekapnya erat. Dan aku bisa lihat ketakutan yang mendalam dimatanya. Ia menggigit kukunya dengan gemetaran, sedangkan orang-orang berkerumun mengelilingi kami.
“udah Rai, udah ngga apa-apa. Gue berhasil menyelematkan lo. Lo ga perlu takut lagi Rai.” Ucapku sambil membelai rambutnya.
“t-terimakasih Ko...terimakasih.” jawabnya terbata-bata. Raina memegang tanganku dengan kencang, dan ia menarik-narik seragamku. Untuk itu aku berinisiatif mengantarnya kerumah dan menyuruhnya beristirahat.
Setelah kejadian itu aku merasa aneh pada diriku sendiri. Tapi aku tidak menghiraukannya. Yang sekarang aku prioritaskan adalah mengungkapkan perasaanku pada Avia. Malam harinya aku teringat akan nasihat Rai, bahwa aku mempunyai 2 pilihan. Dan disaat aku ingin mengutarakan perasaanku, kenapa sekarang aku merasa ragu akan hatiku, kenapa aku ragu dengan perasaan yang sudah lama aku pendam ini? Aku terus memikirkannya. Akhirnya ku putuskan untuk tetap mengatakannya pada Via. Kemudian aku pun mendatangi kamarnya.
“ka Niko, ada apa? Tumben kakak ke kamar aku?” ujarnya yang sedang memegang buku pelajaran Biologi. Aku menghampirinya dan duduk disampingnya.
“Via, tolong dengerin kakak...karna kakak gak akan mengulangnya.” Kataku tak berani menatap adik angkatku itu.
“iya, Via pasti dengerin kakak. Kenapa ka? Ada apa?” jawabnya penuh rasa penasaran.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menelan ludah. “aku sayang sama kamu Via.”
“aku juga sayang kakak. Aku kira selama ini kakak benci sama aku. Tapi aku lega ternyata kakak sayang sama aku.” Avia menjawabnya dengan mudah sambil menorehkan senyum polos diwajah cantiknya kemudian memelukku.
Aku kembali menarik nafas dan berusaha menjelaskan bahwa perasaanku ini lebih dari rasa sayang seorang adik-kakak. “kakak sayang kamu sebagai seorang wanita Via! Aku cinta kamu!” Tampak wajah Avia begitu kaget mendengar pernyataanku. Ia tak menjawab sepatah kata pun. Ia melepaskan pelukannya. Ia tidak menoleh ke arahku sama sekali. Meskipun aku telah ditolak, tapi aku merasa beban yang ku pikul selama ini telah sirna. Walaupun aku tidak langsung bisa melupakan perasaan yang sudah sangat lama ku pendam tapi aku yakin perlahan waktu akan mengembalikan keadaan seperti semula. 

“Nobody said it was easy..no one ever said it would be this hard, Oh take me back to the start...”
*Coldplay – Scientist*

            Keseharianku berjalan seperti biasanya, untunglah ada Raina yang selalu bersama denganku. Sejak kejadian itu Via tidak berubah, ia tetap menegurku dengan senyum cerianya. Aku sungguh bersyukur dia tidak marah terhadapku dan kami pun perlahan menjalin hubungan selayaknya adik-kakak. Dan tahap demi tahap, perasaanku terhadapnya memudar. Mungkin kalau aku menceritakan kisah konyolku ini kepada semua orang mereka pasti akan berkata “yang kau alami itu Cinta Buta.” Jika kembali ke masa lalu aku jadi geli sendiri mengingat bagaimana bisa aku menyukai adik angkatku.
            Namun aku tak sependapat bahwa Cinta itu Buta. Cinta tetaplah cinta. Cinta itu suci. Terkadang manusia seperti akulah yang tidak pandai melihat ataupun menyadari yang sedang ku alami benar cinta atau hanya perasaan ingin memiliki semata. Karna jika berbicara tentang cinta, berarti kita juga membicarakan 2 orang yang memiliki perasaan yang sama. Aku cinta kamu, dan kamu cinta aku. Dan cinta yang pernah aku miliki dulu adalah “Aku cinta kamu, tetapi kamu tidak cinta aku.”
            “hayooo!! Ngelamun aja sih ko!” ternyata Raina yang mengagetkanku dari belakang. Tanpa rasa bersalah ia malah mencubit pipiku dan cengengesan.
            “awhh.. sakit tau Rai!” keluhku sambil mengusap pipiku yang merah karena dicubit gadis satu itu.
            “masih ada rasa yang tertinggal sama adik angkat?” ucapan Raina membuatku tak dapat bergeming. Keheningan menghiasi kami saat itu. Tapi tindakan Raina lebih-lebih membuatku terkejut. Ia mendekatiku dan memelukku. Aku...mataku seperti hampir mau copot karna saking kagetnya. Aku tak bisa begerak, tubuhku mati kukuh, namun aku merasakan sesuatu...suatu kehangatan yang mampu menenangkan hatiku...
            “jangan menderita karna dia, karna banyak orang lain yang berlomba untuk menyayangi elo Ko, termasuk gue...” setelah mengutarakan kalimat itu lalu ia pergi, sedangkan aku...aku tak dapat mengatakan apa pun...aku tak tau mengapa jika berada didekatnya aku hanya bisa terdiam.
            Ya, aku memang masih menyukai Avia. Tapi, aku kira seseorang baru saja menghapus perasaan itu. Seseorang yang tidak kuduga... bahwa ia mampu melakukan hal besar terhadap diriku. Aku tidak peka selama ini. Maafkan aku Rai...

Aku ingin kau selalu ada untukku...
Yah, walaupun tanpa ku katakan kau pasti selalu menemaniku...
Namun kali ini berbeda,  aku sadar siapa yang sebenarnya aku sayangi...
Aku tidak benar-benar menyukai Avia, dulu itu hanya perasaanku sesaat karna kau pergi meninggalkan aku tanpa kabar sedikitpun...

“How did we lose our way, how did we fall apart...”
*All 4 One – Smile Like Monalisa*

                “Rai! Rai mau kemana! Rai kan tau Niko ga punya temen selain Rai!”
            “maafin aku Ko, tapi aku harus tinggalin kamu lagi. Semua ini aku lakukan supaya kamu menyadari siapa yang benar-benar kamu cintai. Da-dah Niko...”
            Suara itu...wajah Raina...tapi mau pergi kemana lagi dia?!
            “jangan pergi lagi Raiiiii !!!” jeritku yang terbangun tengah malam dari mimpi yang begitu menyesakkan dadaku. Bagaimana bisa aku bermimpi seperti itu? Pikirku tak percaya. Ku tengok handphone yang saat itu bergetar. Ternyata sms dari Raina.

From : Raina Denniele
Hei, ko. Maaf membangunkanmu tengah malam, tapi aku hanya ingin menyampaikan satu hal. Tolong datanglah kerumahku nanti pagi, aku ingin mengucapkan satu permintaan.


            Ketika aku membalas sms-nya, tidak ada laporan terkirim sama sekali. Berulang-ulang aku mengirimnya hasilnya tetap sama. Karena penasaran, akhirnya aku menelfonnya...tapi nomernya tidak aktif. Aku benar-benar bingung. Permainan apa lagi ini Rai?! Gumamku.
            Sial, semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak karna perempuan merepotkan itu. Aku terus menggerutu sepanjang perjalan kerumah Raina. Saat mengendarai mobil tiba-tiba melintas seekor kucing yang membuatku terhentak kaget dan aku langsung menginjak rem. Aku keluar dari mobil dan syukurlah aku tidak menabrak binatang itu, ketika berbalik menuju mobil aku kembali dibuat terkejut... Raina?!
            “Rai, kok lo bisa disini? Bikin gue kaget aja!” ucapku agak sedikit terkejut.
            “ah, kebetulan aja ko. Gue abis kerumah seseorang.” Tumben sekali dia tidak cerwet. Hari ini Rai kelihatan agak aneh.
            “ayo gue anter lo pulang Rai.” Kataku menggandeng tangan Raina.
            “jangan sekarang ko, gue mau pergi ke suatu tempat sama lo, boleh kan?” pintanya.
                “karna sekarang hari minggu kayanya boleh juga sekali-kali kita jalan, lagipula udah lama kita ga jalan bareng. Okedeh, lo mau kemana? Gue anter.” Tuturku yang memasuki mobil bersama Rai.
                “gue...mau ke taman hiburan ko.”
                “wah seru tuh! Gue juga udah lama ga kesana, terakhir kali sama lo pas kita umur 10 tahun hehe.” Lalu aku langsung menancap gas menuju salah satu taman hiburan di daerah Jakarta Utara. Kami  menaiki semua wahan, mulai dari yang kekanak-kanakan seperti gajah terbang, bom-bom car, istana boneka, sampai yang menyeramkan seperti halilintar, tornado, dan kora-kora. Sudah lama sekali aku tidak ketempat ini, dan aku merasa sangat nyaman...nyaman berada di dekat Rai.

“All my agony fades away when you hold me in your embrace...”
*Within Temptation – All I Need*
           
            Wahana terakhir yang kami naiki adalah Bianglala. Jujur, sebenarnya aku paling takut naik wahan ini dari dulu. Tetapi aku bukan anak kecil lagi, jadi aku memberanikan diri agar Raina tidak menganggapku pengecut.
            “lo ga takut lagi ko?”
            “enggaklah! Gue kan udah gede! Emangnya gue masih anak-anak!”
            Raina tertawa kecil, lalu ia berkata. “baguslah kalau begitu. Hari ini gue seneng banget ko, terimakasih ya..” Ia menghampiriku dan memelukku. Namun sekarang aku tidak hanya terdiam, aku membalas pelukannya. Dengan erat aku mendekap gadis itu. Entah mengapa rasanya aku ingin menangis ketika ia melepas pelukannya.
            “lo masih inget kata-kata gue kan ko? Jangan menangis untuk orang yang gak benar-benar lo cintai. Jangan menderita karena seseorang yang lo cintai meninggalkan lo. Karena gue akan selalu ada untuk lo, sampai kapanpun...”
            Sungguh, aku tidak dapat menahan tetesan air mata yang hangat perlahan mengalir dipipiku. Aku merasa sedih saat Raina mengatakan hal itu. Kemudian ia kembali memelukku, lebih lama dan lebih dalam dari sebelumnya. Ini adalah momen yang tidak akan kulupakan.
            Setelah puas seharian jalan bersama Raina aku pun mengantarkannya pulang, tapi aku tidak sampai ke rumahnya, hanya di depan gapura perumahan karna aku sudah keburu cape dan ingin cepat-cepat berbaring ditempat tidur. Sesampainya dirumah aku mendapati orangtuaku dan Avia dengan wajah gelisah sedang duduk diruang keluarga. Begitu melihat aku sudah pulang, mama langsung menghampiriku.
            “ya ampun Niko! Kamu kemana aja sih dari pagi?! Mama telfonin tapi nomer kamu gak aktif! Kamu tuh habis dari mana?!” yang namanya mama kalo udah ngomong ga ada titik komanya. Aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu.
            “aku abis...” belum selesai menjawab Avia menyela pembicaraanku dengan mama.
            “kakak Rai meninggal kak. Dia kecelakaan tertabrak Truk tadi pagi.” Sela adikku.
            Gelap, dunia ini seakan berubah kelam bagiku. Bagaimana mungkin?! Tadi pagi, hah?! Sedangkan Raina baru saja menghabiskan waktu bersama denganku! Mereka pasti salah! Mereka pasti membohongiku! Aku jatuh tersungkur, membenamkan wajahku kedalam kedua telapak tanganku. 
Rai, mana mungkin...mana mungkin ini terjadi kepadamu, iya kan Rai?! Jawab aku Raina?!!!
Tolong jangan tinggalkan aku Rai...


“Place and time always on my mind.. I have so much to say but you’re so far away...”
*Avenged Sevenfold – So Far Away*
            Keesokan paginya aku dan keluarga mendatangi rumah Raina yang terpampang bendera kuning. Banyak orang-orang yang berdatangan untuk memberikan doanya. Disamping peti kayu yang dingin itu aku melihat Om Johan dan Tante Lucy sedang menangisi anak mereka. Terutama Tante Lucy, ia tampak kehilangan dan Om Johan berusaha terlihat tegar sambil menyemangati istrinya.
            Kaki ku tidak mampu bergerak selangkah pun. Rasanya aku tidak sanggup harus melihatnya. Aku tidak berani menghadapi semua ini sendiri. Tapi Avia menggengam tanganku, ia tersenyum padaku seolah memberikan kekuatan kepadaku.

Melihatmu terbujur kaku berhiaskan gaun putih dan bunga yang kau pegang... kau sungguh cantik Rai.. benar-benar seperti malaikat. Setidaknya aku sangat senang karna sebelum kau pergi kau menemuiku lebih dahulu dan menghabiskan waktu bersama denganku..
Tidak ada lagi yang dapat kukatakan Rai. Disatu sisi aku memang kehilanganmu tapi disisi lain aku ingat perkataanmu bahwa aku tidak boleh menderita jika orang yang ku cintai pergi meninggalkan aku, karena kau sebagai orang yang ku cintai akan selalu ada dihatiku.
Tidurlah dengan damai, bawalah seluruh kenangan kita bersama kepergianmu. Jangan pernah lupakan aku dari hidupmu. Tetaplah berada dihatiku selamanya, karena aku tidak akan pernah menghapusmu dari ingatanku.
Aku yakin Rai, seseorang yang mencintaiku telah menungguku diluar sana.. meskipun aku sekarang belum menemukannya, tapi satu yang pasti bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu...
***
Gadis itu memberikan kecupan lembut yang terakhir di pipi Niko tanpa sepengetahuannya. Ia menangis untuk yang terakhir kalinya dan terbang jauh menembus awan.
“Ko, aku minta maaf karna aku tidak bisa berada disismu selamanya sampai kapanpun seperti perkataanku, tapi aku akan selalu mengawasimu dari atas sini ko...aku akan menyaksikan sendiri kau bersama orang yang benar-benar kau cintai hidup berdampingan...rasanya aku tidak sabar menunggu akan hal itu..selamat tinggal Niko...”

“I hope it's worth it, what's left behind me...
I know you'll find your own way when I'm not with you...”
*Avenged Sevenfold – Fiction*